Kini, hampir setiap rumah nampak telah terparkir sepeda motor. Anak-anak sekolah tidak lagi berjalan kaki berkilo-kilometer, melainkan berangkat dengan angkot, becak, atau sepeda motor. Sebuah perubahan yang 40 tahun lalu bahkan tak pernah kami mimpikan namun saat ini jalan Kuta Tengah belum juga mulus semuanya..
Saya teringat masa sekolah di tahun 1980-1990 di kampung ini.
Ketika Satu Televisi Ditonton Satu Kampung
Pada masa itu, jaringan listrik belum masuk. Di seluruh kampung, hanya ada tiga warga yang memiliki televisi kala itu dan menghidupkan TVnya dengan tenaga Baterai ,. Mereka adalah keluarga marga Silitonga, Pasaribu, dan Banurea – orang-orang baik hati yang rumahnya selalu terbuka.
Setiap malam Minggu, rumah mereka berubah menjadi bioskop rakyat. Kami berbondong-bondong datang untuk menonton film akhir pekan pada saat itu bintang film terkenal Rano Karno dan Benyamin S atau pertandingan tinju dunia yang melegenda, Alis Pical. Satu layar kaca ditonton puluhan kepala.
Kini, ketiga orang tua pemilik televisi itu telah tiada. Semoga kebaikan mereka yang telah memberi cahaya hiburan di tengah kegelapan kampung menjadi amal jariyah bagi mereka.
Jerigen, Pencuran, dan Sarapan Bernama Las Toba
Air bersih pun belum ada. Untuk mandi, mencuci, dan minum, kami harus berjalan lebih dari 400 meter menuju pencuran untuk mendapatkan sumber Air yaitu Lae pancur ,mengambil dan membawa air sampai kerumah dari pancuran harus dipikul dengan Green dan jerigen, digotong bersama abang dan adik dengan pundak perih.
Perjalanan ke sekolah lebih berat lagi. Kami harus berjalan kaki ke Sidikalang. Terkadang sebagian teman pukul 05.00 pagi sudah berangkat, menembus kabut tebal dan jalan berlumpur.
Bekal kami bukan nasi. Melainkan ubi rebus. Terkadang, agar ada rasa, bawang Batak atau bawang gendera dibakar setengah matang, digiling dengan cabai dan garam, lalu diseduh air panas. Oleh Mamak kami, Boru Pasaribu, ramuan itu disebut "Las Toba".
Itulah minuman Las Toba teman sarapan kami setiap pagi hari. Kadang ubi talas, kadang pisang kepok. Rasanya biasa saja, kami nikmati saja. Padahal kadang saat sendawa, rasa asam naik hingga ke kerongkongan.
Sore hari pulang dari ladang kami pergi berangkat mengaji dengan menelusuri jalan setapak berumput yang sunyi malam dengan bawa obor terkadang menuju dan pulang ke Kuta Neur, rumah guru ngaji kami alm Khalifah Daud Banurea. dirumah tempat ngaji lampunya pakai petromah atau lampu gas nama saat itu."menurut cerita ayah ,uang ngaji cuma 1,5 kaleng padi setahun.
Dulu diwaktu masih duduk SD Pangkirisan Kuta Tengah tak pernah terbesit cita-cita ingin menjadi apa. mungkin sebab kondisi ekonomi lemah membuat kami hanya bisa berdoa dalam hati, semoga menjadi orang berhasil.
Sepulang sekolah jam dua siang, jalan kaki dari batu 5 Sungai raya setelah duduk di SMP & SMP kami tidak bermain. Kami langsung ke ladang, menyangkul dan membersihkan areal pokok kopi yang menjadi mata pencaharian utama, dan pulang dari ladang jam 6 sore,sekaligus bawa kayu bakar dan sayuran untuk makanan.
Dulu kami memipil jagung dengan tangan atau manual, terkadang begadang ramai ramai bersama Bapa-Inang engket Abang semalaman dengan jari-jari perih. Ternyata kini dikampung memipil jagung dilakukan dengan mesin semua selesai dalam menit dan siap jual.
Alhamdulillah.....Perjalanan dari tangan ke mesin ini bukan sekadar soal teknologi. Ini adalah kisah tentang ketahanan, doa-doa lirih anak-anak kampung desa tertinggal jauh dari kota dan pemikul jerigen yang akhirnya dijawab oleh waktu. Alhamdulillah warga Kuta Tengah dan Tambahan sudah mulai bangkit baik dikampung dan juga dirantau orang.
Lias ate.....Njuah njuah....kita karina
Penulis: Kadirun Padang.SH
Pimpinan Umum Media Polmas Groub.
